Sabtu, 31 Oktober 2009

Apakah orang sholeh meninggal bisa memberi manfaat atau mudharat ?

Pertanyaan : Apakah apabila orang sholih atau wali meninggal dia bisa memberikan manfaat atau bahaya atau sesuatu kepada manusia yang masih hidup setelah kematiaannya ?

Jawaban Syaikh : Alhamdulillah. Tidak diragukan lagi bahwa orang yang paling berhak atas kewalian adalah Nabi sholallahu alaihi wasallam. Allah telah memerintahkan beliau supaya menyampaikan kepada umat bahwa beliau tidak mampu memberikan manfaat maupun mudharat untuk dirinya sendiri kecuali dengan izin Allah. Allah berfirman, “Katakanlah: Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak pula menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentunya aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. ….” (Al-A’raf: 177)

Allah juga memerintahkan supaya Nabi menyampaikan kepada manusia bahwa beliau tidak mampu melakukan hal-hal seperti itu. Nabipun bersabda,” aku tidak mampu memberikan manfaat ataupun bahaya untuk kalian.” Apabila demikian kondisinya pada orang yang paling berhak menjadi wali dan paling dekat dengan Allah taala yaitu nabi Muhammad, maka bagaimana dengan orang selain beliau. Setiap wali atau nabi ataupun raja, sungguh tidaklah dia memiliki kekuasaan untuk memberikan manfaat atau mudharat kepada seseorang kecuali dengan izin Allah. Adapun dzat yang berkuasa dan mengurusi seluruh makhluk, dialah Allah.

Apabila seorang wali saja tidak mampu memberikan manfaat atau madharat padahal dia masih dalam keadaan hidup, apalagi tatkala dia sudah meninggal, tentu lebih tidak mampu lagi. Mereka tidak memiliki andil dalam mengurusi alam ini, tidak mampu memberi manfaat atau mudharat kepada makhluk lain. Wajib bagi setiap manusia untuk menggantungkan semua itu hanya kepada Allah semata. Hal ini dikarenakan Dia-lah dzat yang memiliki manusia itu sendiri.

Selanjutnya saya sampaikan kepada saudara ini dan selainnya hendaknya ia memberikan gelar wali hanya kepada mereka yang berhak. Terkadang dikatakan bahwa ini adalah wali Allah. Padahal pada hakekatnya dia adalah musuh Allah karena banyak menyesatkan manusia dari agama Allah yang benar. Ia menghiasi dirinya dengan apa yang dapat dia lakukan berupa khurofat, tahayul dan selainnya. Adapun standar wali adalah sebagaimana diterangkan dalam firman Allah,” Ingatlah, sesungguhnya wali wali Alloh itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati (yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa) (QS. Yunus : 62 – 64)

Maka barangsiapa yang beriman dan bertakwa maka dialah wali Allah. Apabila ada seseorang disebut sebagai wali maka kita lihat iman dan takwanya kepada Allah, juga apakah dia istiqomah dalam syariat allah, semangat dalam mengikuti Nabi serta melaksanakan syariat Allah dalam perkataan dan perbuatannya. Apabila tidak, maka dia bukanlah wali Allah meskipun dia mengaku-aku sebagai wali. Apabila dia membuat perkara-perkara baru dalam peribadatan maupun dalam keyakinan lalu dia mengaku sebagai wali, maka dia telah berdusta karena dia bukanlah orang yang bertakwa. Sedangkan wali Allah itu adalah orang yang beriman dan bertakwa kepadaNya.


http://www.ibnothaimeen.com/all/noor/article_1733.shtml


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

lebih dari sekedar GAYA...

lebih dari sekedar GAYA...
klik untuk melihat koleksi